Perfeksionis, kata orang-orang aku begitu. Selalu banyak pemikiran dan pertimbangan sebelum mengambil keputusan. Tak hanya dalam akademis, pekerjaan atau membeli barang, yang kerap menjadi saran adalah bagaimana perfeksionisnya aku memilih pasangan. Hampir menjadi suatu kewajaran jika masa pendekatan denganku itu tergolong lama, bahkan lucunya ada kisah dimana waktu pacaran lebih singkat dari waktu perjuangan. Yah, semua orang berharap hubungan serius, siapa juga yang mau putus? Tapi agaknya aku terlalu banyak menggunakan logika daripada hatiku selama ini. Aku mendapatkan pasangan dengan kriteria mumpuni tetapi justru lupa pondasi yang terpenting dari sebuah komitmen: kenyamanan dan kepercayaan. Dan jika kau ibaratkan membangun sebuah hubungan layaknya membangun rumah, tanpa pondasi yang kuat, angin pun bisa meruntuhkannya.

Ohya, satu lagi. Aku percaya bahwa aku bukan satu-satunya perempuan yang peka terhadap maksud lawan jenis yang memulai sebuah obrolan. Bahkan aku bisa mengklaim bahwa salah satu talentaku adalah aku bisa (sedikit-banyak) 'membaca' orang. Bertahun-tahun belum pernah salah menerka, baru kali ini ibaratnya aku kecolongan. Namun, hal ini justru mengajariku bahwa hal-hal di luar prediksi adalah kejutan kecil dari perjalanan hidup.

Seseorang, tanpa kusadari mulai menyemai rasa nyaman dalam setiap obrolan berujung tawa. Seseorang, yang saking sering beradu gombal, bahkan terkadang gombalanku jauh lebih manis darinya, diam-diam mencari celah keseriusan. Seseorang, yang tidak intens berinteraksi namun berusaha mengenalku dalam setiap kesempatan untuk berbagi cerita. Semuanya berlangsung tanpa sadar, hanya berbingkai pertemanan. Bahkan, lebih banyak temanku lawan jenis yang berkomunikasi intens denganku dibanding pria ini. Tapi, sebuah lagu MYMP mengingatkanku pada frase 'Love Moves in Mysterious Ways', terutama di lirik awalnya, 'who'd have thought this is how the pieces fit'.

Itulah mengapa saat ia menanyakan kesedianku untuk berjalan bersama, aku hanya tertawa seolah paham kalau itu hanya jebakan gombalannya. Tapi saat itu raut wajahnya menyatakan kalau ia serius! Dan bagiku, momen seperti ini menegangkan, karena jujur aku tidak pernah berekspektasi apapun. Aku hanya bisa menjawabnya dengan pertanyaan, 'Memang sudah seyakin itu denganku? Kan kita baru kembali berkomunikasi sebentar.' 

Kami memang sudah kenal sejak tahun 2011, namun saat itu kondisinya berbeda. Tahun 2015 sempat berkomunikasi kembali, namun sebatas karena ia ingin meng-endorse aku dengan kain Batik Bataknya. Setelah itu aku berangkat ke Inggris untuk melanjutkan S2. April 2017 pertama kali chat di Whatsapp, itu pun karena aku pesan dua tas Ulos darinya sebagai hadiah perpisahan Pembimbing Disertasi dan Direktur Programku. Mei-Juni, sama sekali tidak ada interaksi. 

Bulan Juli, aku kembali menghubunginya hanya untuk memberikan foto wisudaku bersama kedua dosen yang memegang tas Ulos produksinya. Lagi-lagi sebatas endorse, namun kali ini diselipkan pertanyaan kapan aku pulang ke Indonesia. Ah, itu pun sama sekali tidak membuatku geer karena ia hanya ingin menraktirku di lapo sebagai rasa terima kasihnya telah mempromosikan produknya hingga ke Inggris, pikirku demikian. Selama bulan Agustus hingga awal Oktober pun, bisa dihitung jari berapa kali kami bertemu, karena dia di Bandung dan aku di Jakarta. Bagaimana bisa kukatakan ini sebuah usaha mendekati?

Pertengahan Oktober apa yang tak pernah kuprediksikan terjadi. Kalau ditanya apa pertimbanganku mengatakan 'Ya' pada ajakannya, aku pun tak bisa menjawab. Tapi satu hal yang tanpa sadar sudah terbangun diantara kami adalah kenyamanan. Entah dalam obrolan tidak penting sampai topik yang lumayan berat. Yang kedua yang kutanyakan padanya saat itu adalah soal karakterku yang sangat sosial, baik dalam pekerjaan yang menyangkut banyak orang maupun pertemanan. Alasanku bertanya karena tidak semua pria mampu (atau mau) memahami 'duniaku', bahkan mungkin ini alasan mengapa hubunganku terdahulu kandas. Kepercayaan menjadi poin penting saat kita tak bisa membatasi ruang interaksi pasangan kita. Dan mungkin baru dia satu-satunya pria yang tidak mempermasalahkan cemburu. Lalu, apa alasanku untuk berkata 'Tidak'?


Beberapa mungkin merasa lebih lama mengenalku, merasa lebih tampan dan cerdas atau merasa lebih 'berjuang' mendapatkanku, tapi mereka tak mampu menawarkan kenyamanan dan kepercayaan yang sama. Ohya, kalau kata orang 'ikuti kata hatimu', rasanya baru kali ini aku melakukannya! Biasanya aku selalu mengandalkan logika dan mempertimbangkan banyak hal. Tapi kali ini, dia anomaliku.


Jakarta, 30 Oktober 2017 pukul 02.52 WIB.
Jika ada yang bertanya padaku, hal apa yang akan sangat kurindukan dari Inggris, maka aku akan jawab “Kebebasan berekspresi tanpa penghakiman. Mulai dari mengekspresikan idenya, sejelek apapun itu dihargai. Mengekspresikan diri melalui pakaian, seaneh apapun gayanya tetap tak dicibir. Mengekspresikan perasaan, senang sedih pun demikian. Tiap orang punya nilai dan gaya masing-masing. Yang terpenting adalah tak menganggap nilainya paling benar sehingga menyalahkan orang lain.”

Menjelang kepulangan saya ke Indonesia, sepertinya Tuhan mempersiapkan fisik dan mental saya cukup baik. Beberapa hari belakangan, Birmingham amat panas. Memang ini sudah memasuki Summer dan berita menyebutkan bahwa Heatwave akan berlangsung hingga hari Kamis. Ini jadi latihan fisik bagi saya yang terbiasa dengan dingin untuk kembali berdamai dengan suhu di Jakarta. Tak tanggung, Tuhan agaknya tahu kalau ‘reverse culture shock’ adalah ujian paling berat saat saya kembali ke negara tercinta. Agar nanti saya tidak terlalu kaget, maka uji coba pun dilakukan dari sekarang. Mungkin agar saya tidak lupa bahwa ada tiga hal eksis di Indonesia ‘kepo, gosip dan nyinyir’.

Hari ini contohnya, saya memakai celana pendek ke kampus karena suhu yang panas. Saya iseng buat instastory (Sejak kapan instastory isinya serius? Dikira slide presentasi apa?) yang memperlihatkan baju saya ke kampus hari ini. Tak disangka, ada yang mengomentari postingan saya, ‘Hot girl wearing hot pants. Will you send me a hot pic?’ Dia teman sesama orang Indonesia, sesama alumni Birmingham. Sesama orang yang sudah menjelajah beberapa negara. Saya tahu dia bercanda tapi maaf itu tidak lucu sama sekali. Dan setelah saya japri, memang ketahuan bahwa ada unsur nyindir karena dia tak pernah suka dengan perempuan yang memakai celana pendek. Dia mengajak saya buat berdiskusi persoalan ini (celana pendek aja jadi masalah ya? kenapa gak boikot H*M atau Z*ra yang jual hot pants sekalian?) Singkatnya saya membalas, ‘Jika merasa dirugikan karena punya teman yang memakai celana pendek, kau masih punya banyak teman lain. It will be better to leave than to force someone to change her style just because you don’t agree with that.’

Yang bikin tambah mengejutkan, dia menimpali bahwa sebelum ‘tragedi celana pendek’, sudah banyak orang yang memperbincangkan saya di belakang akibat postingan salah satu foto di Instagram. ‘Ada satu orang yang gak kenal dekat, tapi dia japri aku, minta tolong kasih tahu kau soal foto di IG. Sudah banyak yang ngomongin di belakang katanya.’ WOW!!! Ternyata bukan hanya pertunangan Raisa dan Hamish yang bikin geger ya! Mungkin hari di mana foto saya jadi perbincangan ‘terlalu banyak orang’ bisa dibuatkan hastag #HariGosipBirmingham . Yang namanya dibicarakan di belakang jelaslah saya tidak tahu padahal foto itu diunggah lebih dari sebulan yang lalu. Dan teman saya berkata, ‘Dia mungkin concern sama kau makanya dia kasih tahu aku untuk bilangin ke kau.’ Nah, karena saya tidak tahu siapa ‘Mba’ yang berbaik hati peduli sama saya dan saya pun tidak tahu siapa saja oknum-oknum yang tergabung dalam komunitas gosip saat itu, saya buat saja dalam bentuk tulisan agar bisa dibaca oleh mereka juga.

Pertama, yang namanya terlalu memang tidak baik, termasuk terlalu peduli. Jatuhnya jadi kepo dan apa-apa dikritik. Sebagai sesama perempuan, kalau memang kita peduli sama objek yang jadi bahan gosip, lebih baik rasanya bilang terang-terangan kepada para penggosip agar tidak sibuk bicarakan foto orang. Kuliah di luar negeri rasanya cukup sibuk dengan jurnal dan tugas, kalau masih punya banyak waktu kosong mendingan jalan-jalan daripada bahas foto orang. Saya tidak memaksa semua orang setuju dengan postingan saya di Instagram. Postingan saya bukan kutipan kata-kata bijak ala M*rio Teg*h atau kumpulan foto akademis. Karena sedari awal saya punya Instagram, memang kebanyakan isinya seputar jalan-jalan atau hal-hal artistik. Sebelum saya memposting sesuatu juga sudah saya pertimbangkan. Namun, jika Anda tidak suka, sederhana, tinggal unfollow. Ini jauh lebih bijak daripada ‘ngedumel’ di belakang, apalagi ngajak orang lain buat ghibah. Saya tidak akan sedih kok kehilangan followers, toh bukan selebgram.

Kedua, saya datang ke Birmingham bukan dengan pakaian serba panjang lalu drastis berubah jadi keseringan pakai serba mini. Jadi jika Anda berpikir bahwa saya ingin berpakaian ala orang ‘bule’, Anda salah besar! I'm proud of my own style. Bagi yang sudah mengenal saya sejak jaman SMA dan kuliah S1, mungkin tahu kalau saya memang senang mengekspresikan diri lewat pakaian. Bahkan yang sering berkunjung ke rumah saya agaknya tahu seberapa banyak foto ‘ala model’ saya sejak jaman TK. Ibu saya memang sering mengikutsertakan saya dalam ajang Fashion Show, jadi dari jaman bocah singkong, saya sudah tahu memakai rok mini dan hot pants. Namun, dua benda itu tak lantas jadi ‘pakaian wajib’ saya setiap hari atau tepatnya bersifat occasional. Karena saya anak satu-satunya, orang tua saya kerap memperhatikan cara saya berpakaian dan kadang memperhatikan postingan di media sosial saya. Jadi, saya sangat amat tahu tempat, waktu dan suasana untuk berbusana yang pantas.

Ketiga, kita bisa sampai di sini apalagi dengan beasiswa, yang konon mengalahkan ribuan pendaftar lain karena kita pintar, kan? Banyak program ‘distance learning’ yang ditawarkan, di mana tetap bisa dapat gelar dari kampus kelas dunia namun kita bisa kuliah dari Indonesia. Lalu mengapa kita memilih berkuliah jauh-jauh ke luar negeri? Kalau jawaban kita adalah pengalaman hidup, seharusnya dari apa yang diamati sehari-hari saja, kita bisa belajar. Terlebih jika kita bergaul dengan banyak teman dari berbagai negara dan suka jalan-jalan, seharusnya pikiran kita lebih terbuka. Saya tidak bilang kita harus ‘ke Barat-baratan’, namun kita belajar menghargai preferensi seseorang. Agak miris rasanya kalau negara menginvestasikan uangnya untuk menyekolahkan putra-putri terbaik bangsa, tapi ketika pulang masih jadi orang yang pemikirannya masih sesempit dan sependek ‘hot pants’.

Keempat, saya menulis ini bukan karena baper. Diantara kalian mungkin ada yang berkomentar, ‘Diemin aja sih orang-orang kayak gitu.’ Bagi saya, kesadaran dan integritas belum bisa jadi hal yang tumbuh dengan sendirinya bagi orang Indonesia. Buktinya, sudah sampai di luar negeri, budaya yang kurang baik masih dipertahankan. Mungkin karena kita terbiasa mendiamkan hal-hal yang salah hanya karena tak ingin capek berdebat. Dulu ada yang pernah bilang bahwa “Mendidik otak tanpa watak itu konyol.” Makin saya berpendidikan, saya makin mengerti arti dari pernyataan tersebut bahwa seyogyanya orang terdidik akan terlihat dari wataknya.


Until now, I still believe what Albert Einstein said, ‘Education is not the learning of facts but the training of the mind to think’. So, please, do not broke that statement by showing me so many educated people have a plenty time to talk on someone’s back, even only about the outfit or picture. Let us train our mind to think positively, fill our brain with something useful!
Before today is ended, let me share a story on my special day. Yes, it's my birthday, I'm officially 26 now! What should I wonder on my birthday? Surprise? Oh, come on, Thella, you're getting old! But I couldn't lie to myself that I was missing my old moment. 

This date, a year ago, I was sitting in class, nothing special until my lecturer finished. When I walked out from class, one by one my friends greeted me, I was shy cause I never think this would happen in this kind of individual country. I mean, everyone respects their own business so maybe there's no enough time to mind others, if only they are close. But, it was not only the greetings! Before I left my building, my girls - Lesedi, Lizzy, Dorothea, Sumi, Maika (minus Megan) gave me a birthday card signed by them, flower, chocolate, a cute bear wearing my University's tee and warm hugs. They also invited me to celebrate my birthday at Sumi's flat, and they prepared all the foodies and drinks. I was beyond happy, even couldn't express my feeling at that time! I was so blessed for having my girls.

Then you know why I missed them much. We're that close even we're not taking the same programme.  I wish they were here but unfortunately not. I assumed that I would spend my birthday as same as my usual Friday. Well, I got the earlier phone calls from my lovely ones in Indonesia, also many greetings from my friends but I was (still) hoping something sweet. Until I got a mail from a stranger at 09.17 am, who confessed that he is a member of the separatist group. I was not that quick to believe, but I was terrified when reading his email mentioned my surname, which I never used in every official document.

"Dear Mrs Sirait...we would like to congratulate for your 26th birthday and confess our intention to recruit you to join our army. Let's make a better world through our underground organisation."

He also added the Arabic version of his email and...there was an attachment! What would you do if you are me? I was in a dilemma, too curious indeed afraid to open the video. I almost took this blackmail seriously and wanted to forward it to my university. But I didn't until someone contacted me through Whatsapp asking 'Udh baca email hari ini blm kak?' I am not a suspicious person, so I told him what I got. He suggested me to open the attachment, but I rejected his idea because I was scared! He kept telling me to do so till I won my curiosity above my fear. In the beginning, I saw two men wearing all black, I was quite worried, so I put my phone away from my face. After that, I heard them saying something in my language, and I felt familiar with the voice. I was trying to recognise their face, and I got them! I couldn't stop laughing watching their ditsy disguise. I was wrong thinking that my birthday couldn't be special. I know this was not sweet, but as my very first time got a birthday prank in my life, it perked me up! I impulsively sent a voice note to them, expressing my laughter no matter how bad it sounds.

It didn't over yet. I got another mail at 21.13 titled 'Need Your Help!' from a stranger. He told that we met in APEC last year, which I literally attended. But now I felt dodgy whereas the similar pattern to the first mail. I kept open it and watched another goofy playacting! Jeez, how can I stop laughing? These four men, who lived under the same roof, are really nuts! Indeed, they made my day unusual. Even while I was writing this blog, I still could't hide my fluky smile on my face!

I was so blessed for having Roman Boys - a cherished calling for five guys living at Roman Way who always made me alive whenever I met them. So, I decided to make a story of them on my special day. Thank you Daniel, Rendy, Pandhe, Paksi and Kent for being my A1-persons here.


Guilelessly yours,

-KakThel-
‘Sejarah akan terus berulang’

Bhinneka Tunggal Ika bukanlah kosa kata baru. Bahkan perihal hidup dalam keberagaman sudah diajarkan semenjak kita SD. Masih ingat pelajaran PMP atau PPKn atau PKn? Pasti ada alasan mengapa mata pelajaran tersebut tetap eksis hingga saat ini. Sejak kelas IV SD, seorang guru sudah mengajarkan bagaiamna bersikap toleran[1]. Naik ke kelas V, anak mulai diberikan contoh berbagai kegiatan yang mendukung keberagaman sosial demi persatuan bangsa[2]. Lebih kritis lagi di kelas VI, anak sudah harus bisa menganalisis pelaksanaan nilai-nilai Pancasila dalam keseharian[3].

Saya yakin Permendikbud tak asal ditandatangani di bulan Juni tahun lalu. Ada semangat yang melatarbelakangi mengapa pelajaran PKn tetap lestari. ‘Ini soal tenun kebangsaan. Titik!’ ungkap Pak Anies dalam tulisannya di bulan September 2016. Siapa diantara kita yang tidak setuju dengan gagasan mulia ini? Nyatanya saat perjuangan mendirikan NKRI pun, para pahlawan tak sempat bertanya apalagi mengotakkan diri berdasarkan agama sebelum mengangkat senjata. Negara ini berdiri bukan hasil perjuangan satu golongan tapi satu hati. Kalaulah dulu para pejuang kita berlandaskan pada asas ‘cepat-cepatan klaim’ rasanya tak mungkin asas Bhinneka Tunggal Ika lahir. Karena yang sejarah catat adalah semangat juang bukan komparasi kontribusi antar-golongan dalam merebut kemerdekaan.

Nah, kalau secara teori kita sudah mantap, bagaimana dengan praktiknya? Jelas tak semudah itu. Kalau segala sesuatunya sudah berjalan ideal, tak usahlah Pak Anies repot-repot menyerukan ‘Tenun Kebangsaan’. Hadirnya masalah sosial yang berakar dari sensitivitas akhir-akhir ini juga bukan perkara baru. ‘Sejarah akan terus berulang’ itu benar adanya. Bukan peristiwanya tapi pola-polanya, tentu dengan oknum-oknum berbeda. Jelas-jelas di Indonesia mengakui lima, sekarang enam, agama, tapi di era maju saat ini pola primordialisme masih saja bercokol. Sedikit menengok ke belakang, pada masa Orde Baru dalam UU Nomor 8 Tahun 1985, semua Ormas ‘diwajibkan’ berlandaskan Pancasila dan tindakan ekstrimis dalam bentuk apapun tidak bisa ditolerir. Hanya selang beberapa bulan setelah reformasi, pola eksistensi organisasi kemasyarakatan pun berubah. Coba hitung ada berapa banyak Ormas garis keras yang tumbuh subur selama 18 tahun belakangan ini?

UU Ormas yang baru di tahun 2013 pun ternyata bukan jaminan untuk mengontrol pergerakan Ormas agar lebih selaras dengan kebhinekaan. Coba hitung selama tiga tahun belakangan, sudah berapa kali ada aksi kekerasan yang mengatasnamakan agama? Mungkin ini yang Pak Anies sebut-sebut sebagai ‘perobek tenun’.

Toleransi di tengah perobek, mungkinkah?

Sebagai seorang alumni gerakan Indonesia Mengajar, selama satu tahun menjadi guru muda di desa Adodo Molu, Maluku Tenggara Barat, saya sempat mengalami krisis kepercayaan saat mengajarkan tentang Kebhinekaan. Bagaimana mungkin anak-anak di sebuah desa yang 99.99% penduduknya adalah Kristen bisa mengerti pentingnya toleransi? Meminjam motto Sabang Merauke[4] bahwa toleransi itu dialami bukan hanya diajarkan, beruntungnya rekan sesama Pengajar Muda di desa sebelah adalah seorang Muslim. Saat Eko berkunjung ke desa saya dan sholat, banyak anak-anak yang mengerubungi untuk melihat. Tak jarang Eko disuguhi dengan pertanyaan polos ala anak kecil tentang agamanya, tapi dia berhasil memberikan pengertian. Bahkan saat bulan puasa, rekan guru saya sempat bertanya ‘Kalau buka puasa katong bikin yang manis kah buat Pak Eko?’. Eko adalah seorang Muslim yang taat, bukan sekedar sholat lima waktu, tapi perihal potong ayam secara halal pun kami jadi mengerti karenanya. Namun, ia juga tak jarang membantu program gereja di desanya, bahkan dia amat sibuk waktu mempersiapkan acara Natal untuk anak-anak. Apakah dia Muslim yang salah? Tergantung kacamata mana yang kita pakai.

Lalu pertanyaannya, apakah kita yang adalah orang berpendidikan, tinggal di kota, dan punya akses informasi yang luas ini harus kembali belajar kepada anak kelas IV SD atau mencoba hidup di pedalaman supaya paham esensi Bhinneka Tunggal Ika? Atau menyapu bersih ormas-ormas ekstrim adalah solusi praktis?

Toleransi bukanlah program pemerintah jangka pendek, terlebih apabila tenun kebangsaan ini terlanjur robek. Berharap di Indonesia bebas ormas garis keras bagaikan berimajinasi kalau di Indonesia presidennya berasal dari antara kelima agama lain yang diakui. Hampir tidak mungkin, toh? Lagipula kalau ormasnya dibubarkan, selama masih ada oknum-oknum perobek, kan tinggal bikin ormas baru. UU Ormas 2013 malah memberi ruang kepada ormas yang tidak berbadan hukum, jadi tinggal sesuaikan AD/ART agar memenuhi persyaratan supaya lolos administrasi. Dengan demikian, jika penegakan hukum tak bisa kita jadikan sandaran, mungkin sudah saatnya kita yang mulai berusaha daripada kerap menuntut pemerintah bersikap ideal.

Lalu, kita bisa apa?
Ibaratkan kita punya kain tenun yang begitu apik disulam dengan tangan, harganya mahal dan jadi kesayangan. Ketika tenun itu dirobek-robek oleh orang, tentulah kita marah. Tapi marah kita pun tak cukup karena robekan tak mungkin terjahit dengan sendirinya. Jangan sampai robekan itu tambah lebar, kita harus segera menjahitnya! Anggaplah robekannya tak cuma satu, maka mulailah menjahit dari robekan yang terlebar.

Saat ini robekan terlebar itu adalah Jakarta. Bagaimana tidak, sebagai ibukota negara yang terbiasa dihuni oleh orang dari berbagai suku, ras, dan agama, belakangan ini tergerus oleh sensitivitas keagamaan. Berawal dari tudingan penistaan agama oleh Gubernur DKI yang berlanjut pada aksi massal 212 dan 412. Bagi saya ini bukan soal siapa yang salah dan benar karena nyatanya robekan melebar ke tempat lain seperti pembubaran KKR di Bandung dan sweeping atribut Natal. Hal ini layak jadi perenungan kita bersama, terlebih untuk warga Jakarta yang bulan depan akan memilih pemimpinnya.

‘Jika terlalu mengagumi seseorang, kadang yang salah terlihat benar. Sebaliknya, kalau terlalu membenci seseorang, hal baik pun terasa buruk.’ Lebih baik secukupnya saja agar bisa mempertimbangkan lebih jernih. Mungkin diantara kita sudah memegang jagoan masing-masing, bukan hal mudah pula mengubah pilihan. Namun, amat disayangkan kalau pilihan kita hanya berdasar agama, ras, ataupun simpati. Amat disayangkan kalau lima tahun nasib Jakarta tergadai oleh provokasi. Masalah kompleks di Jakarta tak pilih-pilih mau diselesaikan oleh siapa, yang terpenting tak sekedar tawaran konsep yang memukau tapi juga eksekusi yang tepat sasaran.

Ingat, kita tak hanya sekedar bertarung melawan perobek tapi juga menyulam kembali robekan! Jika kita merasa tidak nyaman dengan kondisi intoleran, pilihlah pemimpin yang punya sikap. Dialog dengan semua kalangan bahkan yang ormas ekstrim sekalipun bukan persoalan, selama konsisten menebarkan semangat keberagaman. ‘Kita harus kembalikan Jakarta, jangan sampai serasa hidup di tanah asing’. Mudah-mudahan kita setju untuk menafsirkannya demikian: Jakarta, tak hanya ibukota negara, pusat pemerintahan, tapi juga riwayatnya sebagai tanah tempat orang dari beragam tempat, suku, dan agama, selayaknya hidup berdampingan secara damai. Mari menjahit robekan tenun, dimulai dari Jakarta!

Obrolan Warung Kopi, 06.01.17

#BukanTimsesAtauHaters


[1] Permendikbud Nomor 24 Tahun 2016 Kelas IV terkait Kompetensi Dasar Sikap Sosial, lebih jelasnya poin 2.3 berbunyi ‘Bersikap toleran dalam keberagaman umat beragama di masyarakat dalam konteks Bhineka Tunggal Ika’ dan poin 2.4 memperkuat dengan ‘Menampilkan sikap kerjasama dalam berbagai bentuk keberagaman suku bangsa, sosial dan budaya di Indonesia yang terikat persatuan dan kesatuan’
[2] Kompetensi Dasar Keterampilan poin 4.3 ‘Menyelenggarakan kegiatan yang mendukung keberagaman sosial budaya masyarakat’ lalu diperkuat dengan ‘Menyajikan hasil penggalian tentang manfaat persatuan dan kesatuan untuk membangun kerukunan.’
[3] Kompetensi Dasar berbunyi ‘Menyajikan hasil analisis pelaksanaan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.’
[4] SabangMerauke (Seribu Anak Bangsa Merantau untuk Kembali) adalah program pertukaran pelajar antar daerah di Indonesia yang bertujuan untuk menanamkan semangat toleransi. Dalam program yang digagas sejak 2012 ini, anak-anak dari seluruh Indonesia akan tinggal dengan keluarga yang berbeda dan berinteraksi dengan teman-teman yang berbeda.
If we agree with famous saying said “First impression matters”, we might react the same way. Can you imagine how exciting the experience at the first time you travel to South America? I had two important events in Peru: first, the trip to Custo and Machu Picchu and second, joining APEC conference. It supposed to be amazing unless you had a delayed flight for more than 10 hours! It was scarier than a nightmare although you slept in a fancy hotel. Avianca provided me with those.

I booked with Avianca for the first time for flying to Lima. I was so excited, so I departed early from Birmingham to London. I was scheduled to depart from London to Bogota (AV 121) on 09th November 2016 at 22.05. After lining in a long queue at Heathrow, Avianca’s officer told me that my flight was delayed until tomorrow. I asked her why I did not receive any notice by email and phone, but she kept telling me, “The closure of Bogota airport affects all airlines, not only Avianca. We are very sorry, but the only option is tomorrow at 09.40. We have prepared your room to stay tonight; the bus will take you to the hotel and get back here tomorrow morning”. I replied, “I have a connecting flight with LATAM airline tomorrow morning, could you help me to talk officially to them? Cause your delay will ruin all my schedule, so please kindly help.” Then I was surprised with their response, “You booked a different airline so you must contact them by yourself, we can only provide you with this information letter.” I (still) kept my emotion and asked her, “The problem is I have a trip on Friday morning in Cusco so can you please arrange me to the earliest flight from Bogota to Lima?” She wrote on my ticket while explaining, “It depends on seat availability, so you only got a flight at 22.15 from Bogota. Sorry.” What do you feel if you were me? Unfair? Yes. They put no respect on customer satisfaction. Even they did not try to calm me, at least. I was so panic indeed down, but I have no option, so I joined other passengers to go to the hotel.

Avianca provided us with a deluxe room in a four-stars hotel. Smart enough to apologise, huh? For some passengers who have no fixed schedule, it might be such leisure. But for me, I did not enjoy my deluxe room because I almost did not sleep. My head was full of worries. I called the customer service of LATAM Airlines and explained the reason for changing the flight. A lady on the phone tried to calm me down while she typed my explanation on a case form. She promised that she would pass this form to her supervisor and asked me to wait several hours to be contacted. I also emailed SAS Travel, an agency who arrange my trip to Sacred Valley and Machu Picchu, so they know that I will arrive lately. I was waiting for their replies, hoping for a certainty. Till the day changed, I got no email from both, and I had to depart to the airport with puffy eyes. An hour before boarding, I called LATAM again to recheck my case form. But, still, I had to wait till someone calling me back. Then, I should hold my dizzy head, thinking of uncertainty for last 9 hours during the flight to Bogota. Avianca must not know how it feels!

After arrived in Bogota, I run to see a schedule board. I found there was the earliest flight to Lima, so I run to the departure gate. I asked the Avianca officer about the possibility to change my flight. When I tried to explain my problem, she said “Sorry, your flight was scheduled at night, and this plane had no available seat. If you want to complain, you can go to the customer service. Maybe they could help you to find an Avianca’s direct flight from Bogota to Cusco.” I was like find an oasis in the desert. But then, it just a false hope. I was asking the airport officer about customer service, and in fact, there was nothing. Again, I had no choice except waiting for my flight. During that time, I opened my laptop to recheck email from LATAM, and I found that they had tried to contact me during my flight from London to Bogota. I called them again, asking for the earliest flight from Lima to Cusco. Yes, I was still optimist that I can get into my trip until I faced an hour delayed from Avianca. Again? Yes! But now, they kept letting us wait without any reason until one passenger came to their desk and got angry. The pilot came to the passenger and explained the air traffic as the cause for delaying. For those who depart from Bogota, this was not a big issue. But for us, who came from London and had experienced over 10 hours delayed, we were very disappointed! I saw no smile on everyone’s faces while we were boarding.

After arrived in Lima and took my baggage, I ran to the domestic departure area to find LATAM desk. For several times, I turned into down. I missed my connecting flight to Cusco because of Avianca’s delay. With the rest of my energy, I explained the reason I came late but unfortunately the available seat only for the flight at 08.10. I was crying at the airport and went back to Avianca’s desk. I found there was one flight to Cusco, which I could depart soon, I was hoping that they could be responsible to me for a customer who missed her flight. But what I got? Even with the tears falling, they only could say “Sorry, but you booked your flight to Cusco separately, if you did in the same booking, ‘maybe’ we could help you.” I kept telling them “Yes, but if your flight was on time, I wouldn’t miss my flight, what could you do to help me?” And again she replied, “Sorry, we could do nothing.” In fact, yes they did n't do anything, even to calm the customer they could not do!


I only have an hour at that moment, so I tried to find a WIFI at Starbucks and sent an email to SAS travel, telling them that I would arrive in Cusco at very late. I surrendered to them about my group day trip to Sacred Valley; I knew that I did not have money that much to repay it privately. After that, I tried my luck to LATAM, and yes, God saved me. I got a seat although had to pay additional $30. I straightly went to boarding gate after checking in. 

Later, after I back home, I tried to contact Avianca through email. I wanted to complain for the treatment. But they replied my email as you could read below:
"We regret to inform you that any compensation can be authorized by Avianca. Please accept our most sincere apologies for any disruption which our delay may have caused your schedule. We hope that the arrangements we made and assistance provided by our staff were satisfactory. Unfortunately you had another ticket for your flight from Lima – Cusco and we are unable to assume liability for separate contracts.We hope to have the pleasure of welcoming you back on-board our airline sometime soon and replace any negative impressions with a more positive one."

Last, I could only say that I am not the only customer who got unfair treatment. Just type on google with keywords 'Avianca complaints' and enjoy to read! I don't need a second experience to ensure my opinion cause there are so many airlines beating your low prices with a (much) better service and punctuality. Thank you fo the unforgettable moment we had. 
Sebagian dari kita percaya pada frasa ‘kebetulan’, sebagian lagi termasuk saya percaya bahwa sesuatu terjadi untuk sebuah alasan. Beberapa teman saya berkata, “Keberuntunganmu besar, Thella.” Tapi saya kemudian merevisinya, tidak, Tuhan yang terlalu baik memberikan berkat-Nya pada saya melalui orang lain. Dan kali ini saya akan cerita tentang sebuah tangan penuh berkat bernama Dahuni Foundation. Tangan yang tak hanya memberkati saya, tapi telah memberkati banyak anak-anak Indonesia.

28 April 2016 saya diminta untuk menjadi moderator acara Volunteering for Indonesia (VFI). Ini adalah acara tahunan PPI-MIB bekerjasama dengan PPI-UK untuk mengajak kita semua turun tangan membantu pendidikan anak-anak di Indonesia. Ada tiga pembicara yang hadir mengisi rangkaian Talkshow VFI kali ini, yakni Ibu Nizma (Founder Chariots for Children), Shally (alumni Pengajar Muda - Indonesia Mengajar) dan Mba Riyani (Dahuni Foundation). Jujur saja, karena dimintanya dadakan oleh panitia, saya belum sempat berkenalan secara personal dengan para pembicara. Terkecuali Shally, karena kami sesama alumni Pengajar Muda. Yang menarik diantara ketiga pembicara adalah permintaan satu kursi tambahan dari Raeni** karena katanya suami Mba Riyani, Mr Taco Franssen akan ikut berdiskusi. Dari situ saya makin penasaran dengan Dahuni Foundation. Berjalan kurang lebih 4 tahun, Dahuni Foundation* telah menjejak di Indonesia, Thailand, dan Kamboja dengan keseriusannya memberikan beasiswa dan mentorship kepada siswa yang kurang mampu. Tak cukup dengan pemaparan dan sesi tanya jawab, sebelum Mba Riyani pulang, saya meminta kontak beliau. “Let me know if you come to London!” katanya ramah sebelum bergegas keluar ruangan.

After the event 'Volunteering for Indonesia'
21 September 2016 saya berkunjung ke London dan menginap di rumah beliau. Sambutannya sangat hangat, apalagi Mba Riyani dan Om Taco (begitu saya menyapanya akrab) punya seorang anak bernama Nara. Saya yang naturnya sangat menyukai anak kecil tentu senang menghabiskan waktu di sana. Tak banyak waktu yang kami habiskan untuk ngobrol karena saya dan Nara terlalu asik bermain. Namun, saya sempat memperhatikan Mba Riyani begitu konsen dengan komputer di depannya. Iya, beliau sedang mengurus beberapa kebutuhan Dahuni. Salut! Itu komentar saya dalam hati. Ketika banyak orang yang mengeluhkan jarak, Mba Riyani dengan kesibukannya sebagai Ibu Rumah Tangga, begitu telaten merawat Dahuni dari kejauhan. Ketika banyak pendiri yayasan yang hanya siap mengucurkan dana dan menerima laporan bulanan, Mba Riyani turun tangan bahkan sempat membantu proofreading bagi mahasiswa Indonesia yang kuliah di UK. Mungkin nama Dahuni tak setenar nama lembaga pemberi beasiswa lainnya, tapi bedanya Dahuni tak hanya memberikan dana namun mempersiapkan serta terus meningkatkan kemampuan siswanya di dunia akademis.

Saya juga sempat bercerita tentang kegembiraan saya terpilih menjadi satu dari lima delegasi Indonesia di forum ekonomi internasional APEC 2016 yang akan berlangsung di Peru tanggal 14-20 November 2016. Mba Riyani tak hanya turut senang, tapi juga menyemangati saya agar tak berkecil hati meskipun saya satu-satunya perwakilan yang bukan berlatar belakang ekonomi. Selang seminggu, giliran Mba Riyani dan om Taco yang datang kembali ke kampus saya untuk rapat dengan pihak International Student Officer. Mereka mencari peluang kerjasama agar mahasiswa yang didanai oleh Dahuni bisa punya kesempatan untuk double-degree atau lanjut S2 ke Birmingham. Selesai rapat, beliau berdua mengajak saya dan Raeni untuk ngopi sambil ngobrol sebelum mereka balik ke London. Di tengah obrolan seru kami mengenai project Dahuni bulan November di Indonesia, Mba Riyani bertanya pada saya “Does your scholarship cover all the cost for joining APEC in Peru, Thella?” Saya jawab seadanya, bahwa beasiswa saya menyediakan dana bantuan seminar internasional. Namun, kita harus mempresentasikan penelitian kita dan mereka pun punya batasan maksimal untuk biaya konferensi. Dari beberapa teman saya diinformasikan bahwa ketika dana yang kita keluarkan over budget, maka kita yang menanggung sendiri.

“How much it cost you?” lanjut Mba Riyani. Dari pencarian saya, tiket PP paling murah ke Peru sekitar £500 dan biaya selama seminggu konferensi APEC (termasuk akomodasi dan makan) sebesar $995. Karena dana seminar sifatnya ‘reimbursement’ maka mau tak mau saya harus menalangi terlebih dulu. Itu pun saya tidak terlalu yakin akan diganti oleh beasiswa saya karena ini sifatnya forum bukan seminar. Tapi karena forum ini pasti akan bermanfaat bagi saya, saya akan usahakan agar tetap berangkat. Segurat raut kekhawatiran di wajah saya dibaca oleh Mba Riyani. Beliau kemudian bertatapan dengan Om Taco beberapa saat, entahlah mereka sedang bertelepati apa. Tak lama Mba Riyani bertanya kepada suaminya, “What do you think?” dan Om Taco menjawab “Yes”. Lalu Mba Riyani memalingkan wajahnya dan menyentuh tangan saya sembari berkata “You go to Peru, we will buy your ticket!”

30 September 2016 at University of Birmingham
Tanpa sadar saya langsung menggelengkan kepala, pertanda tak percaya. “No way, is that real?” seloroh saya. Om Taco kemudian membalas, “Do you want us to kidding you?” sambil tertawa kecil melihat muka saya yang masih aneh tak percaya. Kalian bisa bayangkan, baru beberapa saat mengenal Dahuni, dua kali ngobrol dengan pendirinya, dan belum sempat bantu apa-apa di Dahuni. Lalu tiba-tiba akan dibiayai untuk terbang ke Peru? £500 mungkin jumlah yang kecil untuk orang kaya, tapi Dahuni punya anak bukan cuma saya seorang. Ada proyek di tiga negara dan sekian banyak anak yang dibiayai sekolahnya. “Thella, networking is everything. If you meet the right people, you could solve your problem. And sometimes miracle happened just like this” kata Om Taco kepada saya. Saya pun bertanya, “Do you have any condition for me in receiving this? I’d be happy to do.” Tapi mereka hanya menjawab bahwa mereka rindu melihat saya pulang ‘berbeda’ karena lebih ‘berisi’ dan berpengalaman. Mba Riyani pun membekali saya dengan satu kaos hitam Dahuni agar motto “Cultivating dreams, transforming lives, one scholarship at a time” bisa menginspirasi banyak rekan yang saya temui di Peru. Meskipun permintaan mereka sederhana, saya bertekad untuk membuat video singkat yang mudah-mudahan bisa ditaruh di website Dahuni Foundation dan ditonton oleh anak-anak di Indonesia agar mereka lebih semangat belajar. Ya, Dahuni dan segala gerakan positifnya perlu terus disuarakan bukan hanya saat APEC dan kepada jejaring yang saya bangun selama di Peru, tapi untuk seterusnya. Terima kasih, Dahuni dan teruslah memberkati.

Proudly wearing this shirt in Peru
PS: Ini bukan akhir cerita, saya masih punya lanjutan cerita bagaimana berkat yang saya terima melalui tangan Dahuni Foundation ini bisa menular. Ditunggu ya! J

*Lebih lanjut tentang Dahuni Foundation bisa dibaca di http://www.dahunifoundation.com/ Bagi kerabat yang ingin mendaftar, beasiswa Dahuni dibuka bulan Mei dan November.

**Raeni adalah wisudawati terbaik Unnes yang dulu banyak diberitakan karena saat wisuda diantar oleh ayahnya berprofesi sebagai tukang becak. Raeni menerima beasiswa Presiden ke Univesity of Birmingham dan kini telah lulus. Raeni juga merupakan asuhan Dahuni Foundation dan baru-baru ini membantu kegiatan English Camp DF di Boyolali.
Previous PostPostingan Lama Beranda